Hasil penelitian dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan yang terbaik di Indonesia, kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB Prof Dr Ir Bambang Pramoedya, M.Eng, di Bogor, belum lama ini.
"Tahun 2009 merupakan tahun istimewa bagi IPB, karena memiliki prestasi yang sangat membanggakan. Selama tahun 2009 IPB berhasil meraih ratusan penelitian kompetitif yang diseminarkan," katanya.
Sepanjang 2009, kata dia, IPB berhasil melahirkan sebanyak 270 buah karya penelitian kompetitif yang diseminarkan dari total 525 judul yang meraih hibah.
Menurut dia, ke-270 judul penelitian ini terdiri atas penelitian desentralisasi (hibah bersaing, hibah pascasarjana, penelitian fundamental) sebanyak 33 judul, penelitian unggulan IPB sebanyak 52 judul, dan Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) sebanyak 60 judul.
Selanjutnya, riset andalan perguruan tinggi dan industri (RAPID) satu judul, hibah kompetitif sesuai prioritas nasional batch I, II, II dan IV sebanyak 115 judul, serta program insentif KNRT sebanyak 9 judul.
Dalam penyajian hasil penelitian dan diskusi ke-270 kelompok penelitian ini dikelompokkan ke dalam bidang energi satu kelompok, bidang pangan dua kelompok, dan bidang kesehatan dua kelompok.
Selain itu, bidang sumberdaya alam dan lingkungan dua kelompok bidang sosial ekonomi tiga kelompok, bidang teknologi dan rekayasa lima kelompok, serta bidang biologi dua kelompok.
Sumber dana penelitian yang diseminarkan total mencapai Rp26.420.013.000, yang meliputi program insentif KNRT sebesar Rp2.054.000.000, penelitian DP2M Dikti sebesar Rp19.272.780.000, dan KKP3T Departemen Pertanian sebesar Rp7.146.233.000.(antara)
"Tahun 2009 merupakan tahun istimewa bagi IPB, karena memiliki prestasi yang sangat membanggakan. Selama tahun 2009 IPB berhasil meraih ratusan penelitian kompetitif yang diseminarkan," katanya.
Sepanjang 2009, kata dia, IPB berhasil melahirkan sebanyak 270 buah karya penelitian kompetitif yang diseminarkan dari total 525 judul yang meraih hibah.
Menurut dia, ke-270 judul penelitian ini terdiri atas penelitian desentralisasi (hibah bersaing, hibah pascasarjana, penelitian fundamental) sebanyak 33 judul, penelitian unggulan IPB sebanyak 52 judul, dan Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) sebanyak 60 judul.
Selanjutnya, riset andalan perguruan tinggi dan industri (RAPID) satu judul, hibah kompetitif sesuai prioritas nasional batch I, II, II dan IV sebanyak 115 judul, serta program insentif KNRT sebanyak 9 judul.
Dalam penyajian hasil penelitian dan diskusi ke-270 kelompok penelitian ini dikelompokkan ke dalam bidang energi satu kelompok, bidang pangan dua kelompok, dan bidang kesehatan dua kelompok.
Selain itu, bidang sumberdaya alam dan lingkungan dua kelompok bidang sosial ekonomi tiga kelompok, bidang teknologi dan rekayasa lima kelompok, serta bidang biologi dua kelompok.
Sumber dana penelitian yang diseminarkan total mencapai Rp26.420.013.000, yang meliputi program insentif KNRT sebesar Rp2.054.000.000, penelitian DP2M Dikti sebesar Rp19.272.780.000, dan KKP3T Departemen Pertanian sebesar Rp7.146.233.000.(antara)
Dalam proses belajar-mengajar di sekolah formal, guru kelas dan mata pelajaran seharusnya mencari potensi anak, bukan memvonis anak pintar dan bodoh.
Hal tersebut diungkapkan Guru Besar FKIP Universitas Lampung (Unila), Prof Dr Sudjarwo, dalam seminar pendidikan, Senin (19/10). Menurut dia, seharusnya seorang guru mempunyai kecakapan diagostik dan kompentensi aplikatif.
"Sebagai guru harus bisa menggali potensi atau kemampuan anak didik untuk dikembangkan, bukan memvonis anak ini pintar dan ini bodoh," ujar Sudjarwo.
Selain itu, Sudjarwo mengungkapkan, seorang guru harus memiliki otonomi untuk mengatur anak didiknya. Selanjutnya, sama seperti organisasi profesi lainnya, guru harus memiliki kode etik. Kode etik yang dikeluarkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) harus dipatuhi bagi yang tergabung dalam organisasi tersebut. ''Pendidik atau guru harus mempunyai ciri dan prinsip profesionalitas, di antaranya harus ada keahlian khusus,'' jelasnya.
Sudjarwo mengutip makna profesional dari UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Yaitu, pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu dan norma tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi. Ia menambahkan ciri profesionalitas guru harus memiliki keahlian khusus, selain panggilan hidup. Berikutnya, memiliki teori yang baku lalu mengabdikan diri untuk masyarakat.
Profesionalitas guru berikutnya, kata Sudjarwo, adalah harus mempunyai klien, mempunyai organisasi profesi, dan mempunyai hubungan dengan profesi lainnya. Sedangkan prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh kalangan guru, lanjut dia, ada sembilan hal, yakni memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. Kemudian memiliki komitmen terhadap mutu, memiliki kualifikasi akademik, dan memiliki tanggung jawab profesional.
Selain itu, ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh guru. Di antaranya, merencanakan, melaksanakan, menilai dan mengevaluasi, meningkatkan kualifikasi akademik dan mengembangkan kompetensi. [republika]
Hal tersebut diungkapkan Guru Besar FKIP Universitas Lampung (Unila), Prof Dr Sudjarwo, dalam seminar pendidikan, Senin (19/10). Menurut dia, seharusnya seorang guru mempunyai kecakapan diagostik dan kompentensi aplikatif.
"Sebagai guru harus bisa menggali potensi atau kemampuan anak didik untuk dikembangkan, bukan memvonis anak ini pintar dan ini bodoh," ujar Sudjarwo.
Selain itu, Sudjarwo mengungkapkan, seorang guru harus memiliki otonomi untuk mengatur anak didiknya. Selanjutnya, sama seperti organisasi profesi lainnya, guru harus memiliki kode etik. Kode etik yang dikeluarkan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) harus dipatuhi bagi yang tergabung dalam organisasi tersebut. ''Pendidik atau guru harus mempunyai ciri dan prinsip profesionalitas, di antaranya harus ada keahlian khusus,'' jelasnya.
Sudjarwo mengutip makna profesional dari UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Yaitu, pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu dan norma tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi. Ia menambahkan ciri profesionalitas guru harus memiliki keahlian khusus, selain panggilan hidup. Berikutnya, memiliki teori yang baku lalu mengabdikan diri untuk masyarakat.
Profesionalitas guru berikutnya, kata Sudjarwo, adalah harus mempunyai klien, mempunyai organisasi profesi, dan mempunyai hubungan dengan profesi lainnya. Sedangkan prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh kalangan guru, lanjut dia, ada sembilan hal, yakni memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. Kemudian memiliki komitmen terhadap mutu, memiliki kualifikasi akademik, dan memiliki tanggung jawab profesional.
Selain itu, ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh guru. Di antaranya, merencanakan, melaksanakan, menilai dan mengevaluasi, meningkatkan kualifikasi akademik dan mengembangkan kompetensi. [republika]
Label: Enskilopedi
Abu Sulaim Ad-Daramy berkata, "janganlah sekali-kali engkau bersahabat kecuali dengan salah satu dari dua macam ini, pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan dunia dengan jujur, kedua, orang yang, karena engkau bersahabat dengannya, engkau memperoleh manfaat untuk urusan akhiratmu".
Islam sangat menjunjung tinggi persahabatan, sebagaimana sabda Rasulullah, "tidaklah engkau beriman sehingga engkau mencintai saudaramu sebagaiman engkau mencintai dirimu sendiri".
Wujud refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya untuk selalu membela saudaranya, tetapi tampak pula dalam tutur katanya yang lemah lembut, cara bicaranya sangat hati-hati, jangan sampai ada orang yang tersakiti hatinya karma lidahnya, walau dalam becanda atau senda gurau sekalipun.
Lihatlah tanda-tanda persahabatn itu, ketika kita memberi sesuatu maka dia akan menerimanya dengan perasaan haru, ketika kita dalam kesulitan, dialah orang yang pertama yang datang untuk meringankan beban. Ketika kita dalam kegelapan, dialah orang yang merasa paling bersalah karena tidak bisa memberikan penerang.
Penderitaannya bukan karena dirinya lapar atau karena sakit merintih dalam rasa nyeri, penderitaan yang dia rasakan adalah tatkala melihat saudaranya merintih kedinginan mengerang menahan rasa lapar, menanggung hidup berkepanjangan. Kebahagian banginya tatkala dia menjadi cahaya yang menerangi orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Renungkanlah, ketika Rasululah memekik karena sakit yang tak tertahankan tatkala malaikat maut mencabut nyawa beliau, beliau berkata, "Ya Allah, sungguh dahsyat maut ini, timpakan saja semua rasa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku".
Tatkala tubuh beliau mulai dingin, kaki dan dada beliau sedah tak lagi bergerak, bibir beliau bergerak seolah-olah menyampaikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya ke bibir beliau. ”peliharalah sholat dan santunilah orang-orang disekitarmu". Demikianlah yang Ali dengar dari bibir beliau.
Tatkala Fatimah menutupkan tangannya ke wajah Rasulullah, Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir beliau, "ummatii... ummatii... (ummatku... ummatku...)". Bisik rasulullah.
Begitulah ketulusan cinta rasulullah kepada ummatnya, diantara sakaratul mautnya, kita masih diingatnya. Betapa ikhlas perjuangan dan pengorbanan beliau, berharap dapat memberikan yang terbaik kepada kita sebagai ummatnya. Sebagai ummat beliau, sudahkah kita dengan tulus mengasihi sesama seperti yang telah beliau contohkan?
Label: Karyamu
Ujian Nasional (UN) SMA sederajat, berakhir Jumat (24/4). Mayoritas peserta UN dari SMA Hidayatullah Bontang menilai ujian matematika yang palik pelik.
"Soal Matematika yang paling sulit. Soal soalnya banyak yang tidak diujikan dalam Tes Daya Serap atau try out sekolah," kata Ahmad Rivai, siswa kelas III SMA Hidayatullah Bontang ketika dimintai pendapatnya www.smahidayatullah.com, Senin (27/09) hari ini.
Rivai yang juga mantan pengurus OSIS ini mengaku kewalahan ketika mengerjakan soal ujian Matematika. Secara keseluruhan, menurut Rivai, soal soal yang diujikan pada UN 2009 ini terlampau berat dan sedikit sekali yang sesuai atau paling tidak mirip dengan apa yang diujikan dalam Tes Daya Serap. “Menurut saya, hanya 20 persen saja soal yang pernah diujikan pada masa try out” lanjutnya.
Senada dengan Rivai. Ahmad Fauzan dan Rahmat Hidayat dari kelas yang sama, juga mengaku soal matematika sama rumitnya dengan soal Bahasa Inggris. Namun, mereka yakin lulus. "Saya optimistis lulus 100 persen," tutur Fauzan.
Ahmad Fauzan yang kelahiran Kota Balikpapan ini mengaku sempat deg-degan ketika baru memasuki hari pertama UN 2009. “Bukan karena ada santri putrinya, tapi ada rasa was-was takut ga lulus” tukasnya sambil tersenyum. Tapi ketika sudah masuk hari kedua dan seterusnya, Fauzan sudah merasa lebih nyaman, “Alhamdulillah enjoy” katanya semangat.
“Saya kesusahannya di Bahasa Inggris ketika pada sesi listening” ujar Rahmat menambahkan.
Pengumuman UN minggu kedua Bulan Juni
Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kota Bontang, Anwar Sanusi mengungkapkan, dari 1.286 peserta UN SMA IPA dan IPS, dan SMK sebanyak 808 orang, hanya satu orang siswa dari SMK Regomasi yang tidak mengikuti UN dan wajib mengikuti ujian susulan, Senin (27/4).
"Peserta ujian yang tidak mengikuti ujian hanya satu orang, karena tidak mengikuti ujian saat hari kedua, Selasa (21/4), sehingga hanya satu mata ujian susulan" pungkasnya seperti di laman Tribun Kaltim.
Dikatakan Anwar, masih dari sumber yang sama, pelaksanaan UN SMA/sederajat berdasarkan evaluasi sementara Dinas P dan K berlangsung aman, lancar dan tidak ada indikasi kebocoran soal. Pengumuman UN akan dilakukan minggu kedua Juni mendatang.
Anwar meminta pelajar kelas III tetap menyiapkan diri mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang diselenggarakan Senin (4/5) hingga Kamis (7/5). Sebab, UAS tak kalah menentukan layaknya UN.
"UAS sama pentingnya dengan UN, apabila mereka tidak lulus US maka UN mereka tidak akan lulus, demikian sebaliknya," terang Anwar. Untuk materi soal US, berasal dari Musyawarah Kelompok Guru Mata Pelajaran (MKGMP) se-Bontang. [tk/ain/www.smahidayatullah.com]
"Soal Matematika yang paling sulit. Soal soalnya banyak yang tidak diujikan dalam Tes Daya Serap atau try out sekolah," kata Ahmad Rivai, siswa kelas III SMA Hidayatullah Bontang ketika dimintai pendapatnya www.smahidayatullah.com, Senin (27/09) hari ini.
Rivai yang juga mantan pengurus OSIS ini mengaku kewalahan ketika mengerjakan soal ujian Matematika. Secara keseluruhan, menurut Rivai, soal soal yang diujikan pada UN 2009 ini terlampau berat dan sedikit sekali yang sesuai atau paling tidak mirip dengan apa yang diujikan dalam Tes Daya Serap. “Menurut saya, hanya 20 persen saja soal yang pernah diujikan pada masa try out” lanjutnya.
Senada dengan Rivai. Ahmad Fauzan dan Rahmat Hidayat dari kelas yang sama, juga mengaku soal matematika sama rumitnya dengan soal Bahasa Inggris. Namun, mereka yakin lulus. "Saya optimistis lulus 100 persen," tutur Fauzan.
Ahmad Fauzan yang kelahiran Kota Balikpapan ini mengaku sempat deg-degan ketika baru memasuki hari pertama UN 2009. “Bukan karena ada santri putrinya, tapi ada rasa was-was takut ga lulus” tukasnya sambil tersenyum. Tapi ketika sudah masuk hari kedua dan seterusnya, Fauzan sudah merasa lebih nyaman, “Alhamdulillah enjoy” katanya semangat.
“Saya kesusahannya di Bahasa Inggris ketika pada sesi listening” ujar Rahmat menambahkan.
Pengumuman UN minggu kedua Bulan Juni
Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kota Bontang, Anwar Sanusi mengungkapkan, dari 1.286 peserta UN SMA IPA dan IPS, dan SMK sebanyak 808 orang, hanya satu orang siswa dari SMK Regomasi yang tidak mengikuti UN dan wajib mengikuti ujian susulan, Senin (27/4).
"Peserta ujian yang tidak mengikuti ujian hanya satu orang, karena tidak mengikuti ujian saat hari kedua, Selasa (21/4), sehingga hanya satu mata ujian susulan" pungkasnya seperti di laman Tribun Kaltim.
Dikatakan Anwar, masih dari sumber yang sama, pelaksanaan UN SMA/sederajat berdasarkan evaluasi sementara Dinas P dan K berlangsung aman, lancar dan tidak ada indikasi kebocoran soal. Pengumuman UN akan dilakukan minggu kedua Juni mendatang.
Anwar meminta pelajar kelas III tetap menyiapkan diri mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang diselenggarakan Senin (4/5) hingga Kamis (7/5). Sebab, UAS tak kalah menentukan layaknya UN.
"UAS sama pentingnya dengan UN, apabila mereka tidak lulus US maka UN mereka tidak akan lulus, demikian sebaliknya," terang Anwar. Untuk materi soal US, berasal dari Musyawarah Kelompok Guru Mata Pelajaran (MKGMP) se-Bontang. [tk/ain/www.smahidayatullah.com]
Label: Berita Dari Kami
;;
Subscribe to:
Entri (Atom)


