Oleh: Miftahuddin Nurdin
Mahasiswa STAI Luqman Al Hakim Surabaya. Alumni SMAHID 2006


Abu Sulaim Ad-Daramy berkata, "janganlah sekali-kali engkau bersahabat kecuali dengan salah satu dari dua macam ini, pertama, orang yang dapat engkau ajak bersahabat dalam urusan dunia dengan jujur, kedua, orang yang, karena engkau bersahabat dengannya, engkau memperoleh manfaat untuk urusan akhiratmu".

Islam sangat menjunjung tinggi persahabatan, sebagaimana sabda Rasulullah, "tidaklah engkau beriman sehingga engkau mencintai saudaramu sebagaiman engkau mencintai dirimu sendiri".

Wujud refleksi cinta bukan hanya dalam sikapnya untuk selalu membela saudaranya, tetapi tampak pula dalam tutur katanya yang lemah lembut, cara bicaranya sangat hati-hati, jangan sampai ada orang yang tersakiti hatinya karma lidahnya, walau dalam becanda atau senda gurau sekalipun.

Lihatlah tanda-tanda persahabatn itu, ketika kita memberi sesuatu maka dia akan menerimanya dengan perasaan haru, ketika kita dalam kesulitan, dialah orang yang pertama yang datang untuk meringankan beban. Ketika kita dalam kegelapan, dialah orang yang merasa paling bersalah karena tidak bisa memberikan penerang.

Penderitaannya bukan karena dirinya lapar atau karena sakit merintih dalam rasa nyeri, penderitaan yang dia rasakan adalah tatkala melihat saudaranya merintih kedinginan mengerang menahan rasa lapar, menanggung hidup berkepanjangan. Kebahagian banginya tatkala dia menjadi cahaya yang menerangi orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Renungkanlah, ketika Rasululah memekik karena sakit yang tak tertahankan tatkala malaikat maut mencabut nyawa beliau, beliau berkata, "Ya Allah, sungguh dahsyat maut ini, timpakan saja semua rasa maut ini kepadaku, jangan kepada ummatku".

Tatkala tubuh beliau mulai dingin, kaki dan dada beliau sedah tak lagi bergerak, bibir beliau bergerak seolah-olah menyampaikan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya ke bibir beliau. ”peliharalah sholat dan santunilah orang-orang disekitarmu". Demikianlah yang Ali dengar dari bibir beliau.
Tatkala Fatimah menutupkan tangannya ke wajah Rasulullah, Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir beliau, "ummatii... ummatii... (ummatku... ummatku...)". Bisik rasulullah.

Begitulah ketulusan cinta rasulullah kepada ummatnya, diantara sakaratul mautnya, kita masih diingatnya. Betapa ikhlas perjuangan dan pengorbanan beliau, berharap dapat memberikan yang terbaik kepada kita sebagai ummatnya. Sebagai ummat beliau, sudahkah kita dengan tulus mengasihi sesama seperti yang telah beliau contohkan?


Lanjut membaca “Persahabatan Yang Tulus”  »»

Berikut ini adalah Potret Kenangan Alumni dan juga beberapa potret sekilas SMA Hidayatullah Kota Bontang. Foto2 yang tercantum adalah foto yang diambil berkisar antara tahun 2005-2007.

Sekaligus ini sebagai nostalgia bagi alumni yang sudah menyebar diseluruh penjuru nusantara dan luar negeri untuk menuntut ilmu ataupun yang lain. Selamat menikmati. Untuk memutar, silahkan klik tombol PLAY

video

Lanjut membaca “Potret Kenangan dan Sekilas SMA Hidayatullah”  »»

Ujian Nasional (UN) SMA sederajat, berakhir Jumat (24/4). Mayoritas peserta UN dari SMA Hidayatullah Bontang menilai ujian matematika yang palik pelik.

"Soal Matematika yang paling sulit. Soal soalnya banyak yang tidak diujikan dalam Tes Daya Serap atau try out sekolah," kata Ahmad Rivai, siswa kelas III SMA Hidayatullah Bontang ketika dimintai pendapatnya www.smahidayatullah.com, Senin (27/09) hari ini.

Rivai yang juga mantan pengurus OSIS ini mengaku kewalahan ketika mengerjakan soal ujian Matematika. Secara keseluruhan, menurut Rivai, soal soal yang diujikan pada UN 2009 ini terlampau berat dan sedikit sekali yang sesuai atau paling tidak mirip dengan apa yang diujikan dalam Tes Daya Serap. “Menurut saya, hanya 20 persen saja soal yang pernah diujikan pada masa try out” lanjutnya.

Senada dengan Rivai. Ahmad Fauzan dan Rahmat Hidayat dari kelas yang sama, juga mengaku soal matematika sama rumitnya dengan soal Bahasa Inggris. Namun, mereka yakin lulus. "Saya optimistis lulus 100 persen," tutur Fauzan.

Ahmad Fauzan yang kelahiran Kota Balikpapan ini mengaku sempat deg-degan ketika baru memasuki hari pertama UN 2009. “Bukan karena ada santri putrinya, tapi ada rasa was-was takut ga lulus” tukasnya sambil tersenyum. Tapi ketika sudah masuk hari kedua dan seterusnya, Fauzan sudah merasa lebih nyaman, “Alhamdulillah enjoy” katanya semangat.

“Saya kesusahannya di Bahasa Inggris ketika pada sesi listening” ujar Rahmat menambahkan.

Pengumuman UN minggu kedua Bulan Juni
Secara terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Kota Bontang, Anwar Sanusi mengungkapkan, dari 1.286 peserta UN SMA IPA dan IPS, dan SMK sebanyak 808 orang, hanya satu orang siswa dari SMK Regomasi yang tidak mengikuti UN dan wajib mengikuti ujian susulan, Senin (27/4).

"Peserta ujian yang tidak mengikuti ujian hanya satu orang, karena tidak mengikuti ujian saat hari kedua, Selasa (21/4), sehingga hanya satu mata ujian susulan" pungkasnya seperti di laman Tribun Kaltim.

Dikatakan Anwar, masih dari sumber yang sama, pelaksanaan UN SMA/sederajat berdasarkan evaluasi sementara Dinas P dan K berlangsung aman, lancar dan tidak ada indikasi kebocoran soal. Pengumuman UN akan dilakukan minggu kedua Juni mendatang.

Anwar meminta pelajar kelas III tetap menyiapkan diri mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang diselenggarakan Senin (4/5) hingga Kamis (7/5). Sebab, UAS tak kalah menentukan layaknya UN.

"UAS sama pentingnya dengan UN, apabila mereka tidak lulus US maka UN mereka tidak akan lulus, demikian sebaliknya," terang Anwar. Untuk materi soal US, berasal dari Musyawarah Kelompok Guru Mata Pelajaran (MKGMP) se-Bontang. [tk/ain/www.smahidayatullah.com]


Lanjut membaca “Ahmad Rivai: "Matematika Yang Paling Susah"”  »»

Kita harus berjiwa besar, semangat, tidak rendah diri. Jika mau sukses, milikilah itu semua. Orang beriman itu semangat, produktif, dan selalu berfikir positif serta berahlak baik. Begitulah pesan Ustadz Utsman Sulaiman, salah satu pengasuh senior di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang ketika dihubungi pada Selasa, (21/04) lalu via saluran telpon.

Pria yang lebih akrab disapa Ustadz Utsman Cambang oleh santri karena memang memiliki cambang lebat yang rapi, ini mengaku prihatin dengan keadaan dan situasi saat ini yang acap membuat kaum muda lupa dan stress menetukan tujuan hidupnya. Menurut Ustadz Utsman, banyak anak anak muda muslim yang rendah diri, tidak pede menampilkan keislamannnya.

Padahal, tegas Ustadz Utsman, tidak ada yang perlu ditakutkan, "Kenapa mesti minder? Anda orang beriman, semestinya Anda bangga dengan identitas Anda sebagai muslim" selorohnya semangat.

"Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ini karena faktor keadaan juga yang semakin kompleks" jelas ayah dari Mighdad Ali Jundullah dan Karima ini.

Ternyata yang banyak mengalamai kondisi semacam ini, lanjut Ustadz Utsman, adalah para kalangan santri yang notabene identik dengan militansi. "Sebabnya banyak. Yang paling kencang adalah lingkungan. Lingkungan inilah yang mempunya daya pikat yang luar biasa dan bisa menggelincirkan siapa saja" kata Ustadz Utsman yang juga seorang da'i di Bontang yang selau bersemangat ini.

"Kondisi kehidupan hari ini memang sudah kemarut dengan gaya berprilaku fatal dan kebablasan. Hanya pemuda yang memiliki kekokohan aqidah saja yang bisa bertahan, dan itu tidak banyak" lanjut Ustadz Utsman.

Dianggap Sebagai Orang Tua Sendiri
Ustadz yang lama bergelut di bagian pendanaan Pesantren Hidayatullah Bontang ini memang tahu betul persoalan ini. Tahun tahun pengabdiannya di Pesantren Hidayatllah Bontang memang banyak berinteraksi dengan orang, sehingga wajar jika ia kemudian paham betul kondisi ini. Perhatiannya yang besar terhadap mentalitas dan moralitas santri sangat ia syukuri, "ini adalah ibadah saya" katanya kalem.

Tak pelak, dengan perhatiannya itu banyak santri didikanya yang senang karena ada yang menasehati dan memberi perhatian seperti ayah sendiri. Walaupun tampak keras, Ustadz Utsman mendidik dengan penuh kasih penyayang, perhatian, dan mengayomi.

"Kalau ingat Pak Utsman, saya jadi rindu untuk bertemu beliau. Beliau bukan hanya pengasuh, tapi juga guru dan ayah bagi saya" kata Zaldi, salah satu mantan murinya yang saat ini kuliah di salah perguruan tinggi swasta di Surabaya yang dihubungi beberapa waktu lalu.

Itulah mengapa kemudian Ustadz Utsman mengaku cemas dengan kondisi yang ada sekarang. Ia miris dengan kondisi hari ini yang semakin berat ujian iman yang akan dihadapi oleh para santri-santrinya. Ia berharap, semoga ada kader kader Islam yang lahir dari Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang yang bisa ikut andil mencerahkan masyarakat sekitarnya.

"Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan" pungkas Ustadz Utsman semangat.

Lanjut membaca “Nasehat Ustadz Utsman Sulaiman”  »»
                                                                                                                                                                                                        
.:: Mitra Komunitas Hidayatullah ::.